Page

Thursday, October 20, 2011

Memasuki Dunia Sihir Harry Potter Part 1




Mengikuti kisah si penyihir Harry Potter telah lama saya lakukan. Awlanya, kisah ini telah terdengar sejak lama. Namun, tak tahu mau cari dimana novel terlaris sepanjang massa itu. Maklum saya tinggal di sebuah desa yang jauh dari akses buku maupun internet. Kemudain secara tak sengaja saya melihat novel itu di rumah teman saya, yang ternyata milik kakanya. Dengan berbekal ilmu persuasif (skud) atau mungkin juga muka memohon kasihan, saya berhasil membujuk teman saya agar dipinjamkan. Dengan catatan, cepat balikan karena milik kakanya. Oke boss (berterima kasih sekali dengan temanku itu)
Selanjutnya, saya sudah memasuki dunia sihir layaknya anak baru yang melewati peron 9 3/4. Terpukau dengan dunia lain dibaliknya. Tanpa sadar, saya sudah duduk manis di salah satu gerbong dari Hoghwarts Express sambil menikmati coklat kodok. Kereta itupun melaju, namun saya lupa bawa barang-barang dan belanja buku-buku untuk semester awal saya yang ada di depan mata. Untunglah, Rebeus Hagrid bersedia menolong saya (thank's so much Hagrid)
Sesaat kemudain saya tertidur, lalu dibangunkan oleh teman penyihir lain yang bernama Riska Granger, yang saat itu segerbong bersamaku. Karena kami telah sampai di sekolah Hogwarts. Mataku langsung terpesona melihat sekolah yang indah itu. Atap-atap bangunannya, menjulang tinggi dengan berbagai ornamen ukiran dan relief-relief. Sangat mengaggumkan!
Hagrid sudah berdiri dihadapan kami saat kami menuruni Hoghwarts Express. Beberapa penyihir baru yang terlihat sangat kurus, sibuk dengan koper bawaanya dan burung hantunya. Dengan kerlingan mata, dia menunjukan barang-baraangku yang ada disampingnya. Saya hanya tersenyum!
Akirnya, kami dibawa ke aula besar. Saya masih bingung mau diapakan?! Jantungku berdebar, takut kalau-kalau dipersilahkan maju kedepan untuk memperkenalkan diri atau menunjukan kemampuan sihir apa yang saya miliki. Aula yang gaduh, langsung hening saat di lelaki tua berjenggot panjang putih, dengan kaca mata bulat kecil yang menggantung diujung hidungnya yang bengkok maju ke mimbar. Sedikit, menggunakan sihir dia memperbesar suaranya hingga kami semua dapat mendengarkan dengan jelas.
Saat itu, saya satu meja dengan Dian Potter yang ternyata kerabat dari seorang penyihir hebat Harry Potter. Ada Jimmy Weasley, dan beberapa orang teman lainnya serta si Riska Granger. Satu persatu teman saya maju kedepan, mereka dipasangkan topi penyihir yang ternyata namanya topi ajaib. Topi itu yang mentukan di asrama mana kita akan ditempatkan. Mungkin sudah banyak yang tau, bahwa di Hogwarts ada empat asrama yaitu Godric Griffindor, Salazar Slytherin, Rowena Ravenclaw, dan Helga Hufflepuff.
Dan ternyata saya dan teman-teman yang baru saya kenal tadi ditempatkan di asrama Griffindor. (to be continued!) 


No comments:

Post a Comment