Hari itu Minggu, matahari tak malu-malu memancarkan sinarnya. Bahkan langit bersih dari awan yang bisa menaungi 15 orang relawan yang berjalan menuju pantai bersama 4 orang warga Mangkang. Keempat orang tersebut merupakan anggota kelompok tani yang sudah memulai melakukan konservasi terhadap wilayah pantai sejak tahun 2005. Salah satu diantaranya adalah Pak Susuri yang mengaku sudah aktif menanam mangrove sejak tahun 1998 sebelum kelompok tani di tempat itu dibentuk.
Monday, September 9, 2013
Sunday, September 8, 2013
Work Camp Volunteering In Mangkang, Semarang!
Seorang teman yang saya kenal melalui blog ini dan akhirnya berteman di FB, Anang Fatkhurozi, dalam percakapan membahasa beasiswa itec kemudian berlanjut membahas mengenai iiwc. Kebetulan pada tanggal 30 Agustus - 1 September akan dilaksanakan weekend workcamp dengan agenda planting mangrove, language class, culture night, and children competition. Dibutuhkan 10 orang untuk menjadi volunteer yang akan bergabung dengan volunteer lain yang sedang mengikuti program workcamp dimana mereka telah dan sedang akan berada di Mangkan selama dua minggu.
Sebagai newcomer di Jawa, saya belum pernah berada di Semarang sebelumnya, apa lagi Mangkang. Setelah sana-sini bertanya, beberapa teman bahkan tidak tau walaupun sudah lama tinggal di Semarang, akhirnya memberanikan diri saja untuk pergi ke tempat tersebut. Menyediakan perlengkapan, minjem raincoat, nyewa sleeping bag, dan minta tolong keteman sekontrakan untuk diantarkan ke Stasiun Jombor. Setiba disana, teman saya yang lain meng-sms untuk memilih bus yang nyaman dan ber-ac! Namun setiba di Stasiun Jombor, tanpa bertanya-tanya naiklah saya ke dalam bus, yang sejam kemudian saya duduk dengan posisi terjepit disudut, dengan tas bawaan dipangkuan dan tidak bisa bergerak sedikitpun.
Sebagai newcomer di Jawa, saya belum pernah berada di Semarang sebelumnya, apa lagi Mangkang. Setelah sana-sini bertanya, beberapa teman bahkan tidak tau walaupun sudah lama tinggal di Semarang, akhirnya memberanikan diri saja untuk pergi ke tempat tersebut. Menyediakan perlengkapan, minjem raincoat, nyewa sleeping bag, dan minta tolong keteman sekontrakan untuk diantarkan ke Stasiun Jombor. Setiba disana, teman saya yang lain meng-sms untuk memilih bus yang nyaman dan ber-ac! Namun setiba di Stasiun Jombor, tanpa bertanya-tanya naiklah saya ke dalam bus, yang sejam kemudian saya duduk dengan posisi terjepit disudut, dengan tas bawaan dipangkuan dan tidak bisa bergerak sedikitpun.
Thursday, September 5, 2013
Interview Bersama Putri Langsung Dari USA!!
Satu lagi gadis asal Palu yang punya banyak prestasi. Tidak hanya tingkat
lokal dan nasional, tapi juga mampu menunjukan eksistensi dirinya lewat ajang
global. Dia adalah Putri Irnawati, lahir di Palu, 15 Januari
1989. Gadis berjilbab ini merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Drs.Irwan Gagaramusu ( Alm) dan Ibu Dra. Setiawaty. Mengaku
memiliki hobi travelling, renang, baca buku , dan baru-baru ini mencintai extreme sport. Dan memiliki cita-cita kerja di NGO Internasional khususnya bidang masyarakat adat dan Anak. Namun saat ini dia
mulai berfikiran untuk menjadi travelling
writer. Berikut kutipan wawancara bersama putri via Facebook langsung
dari Miami, Florida,
USA.
Tuesday, August 27, 2013
"Shocking Boat": Traveling ala KINESIK..!!!
Berbicara mengenai pengalaman #NekadTraveler seperti yang di lakukan oleh duo Gofar (@pergijauh) dan Nila Tanzil (@nilatanzil) (dapat silihat disini telkomsel.com/nekadtraveler dan video tsel.me/TVCNekadTraveler), maka saya juga punya pengalaman yang cukup nekad! Namun sayangnya saat itu internet dengan akses yang cepat seperti saat ini belum mejamah kami, sehingga tidak bisa se-update mereka berdua (hehe...). Namun mungkin inilah saatnya saya berbagi pengalaman itu. Oke "nekad", begini ceritanya!
Tuesday, July 30, 2013
Sahur: Program Hiburan Vs Program Siraman Rohani
Sahur menjadi hal yang harus dilakukan oleh umat muslim saat hendak berpuasa. Sebagian besar masyarakat menjadikan sahur sebagai moment untuk berkumpul bersama keluarga. Hal ini manjadi waktu yang tepat pula bagi stasiun televisi yang ada di Indonesia untuk menampilkan program yang menarik pada saat waktu sahur tersebut. Maka dari itu, seperti yang kita saksikan saat ini sangat banyak program acara yang dapat disaksikan pada saat waktu mempersiapkan dan makan sahur.
Monday, July 15, 2013
Beasiswa ITEC: Incredible India!!
Informasi beasiswa ini saya peroleh dari teman satu club yang saya dan teman-teman bentuk Kota Palu, Salah seorang anggota Maestro English Club telah memperoleh beasiswa ITEC pada tahun 2012. Setelah memoperoleh sejumlah informasi dari teman saya itu, akhirnya saya mecoba mengirimkan aplikasi untuk mengikuti langkahnya menginjakan kaki di negeri Mahatma Ghandi tersebut.
Langkah pertama ialah mencari informasi sebanyak-banayaknya. Saya mengunjungi situs ITEC dan mendownload formulir dan brosurnya (klik disini). Ada banyak pilihan short course yang disediakan oleh Pemerintah India dalam besiswa tersebut. Kita harus memilih sesuai dengan kebutuhan kita, sehingga nantinya dapat menunjang karir yang kita miliki. Setelah mengetahui semua syarat dan ketentuannya, maka selanjutnya ialah melengkapi segala dokumen yang dibutuhkan.
Monday, July 1, 2013
Awas, Dagadu Asli!
Dagadu! Siapa yang tidak kenal dengan produk kaos satu ini?! Desain yang unik, keratif, dan mengangkat kebudayaan Yogyakarta dan tak jarang menyinggung hal-hal yang mereka anggap perlu diluruskan. Dari desain-desain yang mereka miliki itulah akhirnya kaos Dagadu mendunia.
Jika melihat sejarahnya, pilihan nama Dagadu bermula dari salah seorang di antara mereka yang mengumpat dalam bahasa slang Djokdja: dagadu! (baca: matamu). Umpatan itulah yang memberi inspirasi nama merk dagang produk cinderamata mereka sesaat sebelum mereka berjualan (www.wikipedia.com). Hal ini ternyata dibenarkan oleh Bapak A. Noor Arif selaku Direktur PT. Aseli Dagadu Djogja yang berkesempatan hadir di sore yang mendung dalam rangkaian #IYMC2013. Bapak yang ramah ini menjelaskan bahwa pada dasarnya kata Dagadu terkesan seperti umpatan, namun mereka berusaha untuk merubah makna itu menjadi "cinderamata khas Jogja".
Jika melihat sejarahnya, pilihan nama Dagadu bermula dari salah seorang di antara mereka yang mengumpat dalam bahasa slang Djokdja: dagadu! (baca: matamu). Umpatan itulah yang memberi inspirasi nama merk dagang produk cinderamata mereka sesaat sebelum mereka berjualan (www.wikipedia.com). Hal ini ternyata dibenarkan oleh Bapak A. Noor Arif selaku Direktur PT. Aseli Dagadu Djogja yang berkesempatan hadir di sore yang mendung dalam rangkaian #IYMC2013. Bapak yang ramah ini menjelaskan bahwa pada dasarnya kata Dagadu terkesan seperti umpatan, namun mereka berusaha untuk merubah makna itu menjadi "cinderamata khas Jogja".
Subscribe to:
Posts (Atom)
