Page

Wednesday, May 29, 2013

Ceritaku, Cerita di Kraton Kasunanan Surakarta!


Tidak terasa kegiatan Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013 telah di penghujung acara. Pagi itu, saya dan teman-teman Canting Jogja sudah saling telepon-teleponan atau lebih tepatnya saya dibangunkan lewat telepon oleh mereka. Soalnya kami tidak mau ketinggalan tour Kota Surakarta dengan Kereta Sepur Kluthuk Jaladara. Dan, pagi itu begitu menarik dengan berkeliling kota menggunakan kereta api yang berbahan bakar kayu jati tersebut. 




Hari itu juga hari terakhir kami berada di Solo, semua peserta ABFI dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia dan juga negara-negara ASEAN, harus sudah berkumpul pada pukul 10.00 di Kraton Kasunanan Surakarta. Sebab acara penutupan dari kegiatan yang berlangsung selama 3 hari tersebut akan dilaksanakan di dalam lingkungan kraton. Saat itu, saya sudah hadir lebih dulu dari yang lain. Sebab, saya naik sepeda yang saya pinjam dari teman sesama ABFI. Menunggu sedikit di depan pintu masuk kraton yang sudah sangat membangkitkan rasa ingin tahu saya untuk segera masuk dan melihat-lihat sebuah kerajaan yang telah ada sejak 1745 Masehi tersebut.



Saat itu, ada beberapa orang penjaga yang menggunakan baju adat jawa. Kemudian yang menarik perhatian ialah kedua bapak yang bisa dibilang tidak muda lagi, menggunakan baju tradisional jawa dan seragam. Mereka berdiri kukuh dengan pedang panjang dipingganya. Sesaat kemudian beberapa peserta mulai berdatangan, dan mereka meminta untuk berfoto dengan kedua bapak yang mengiyakan seraya tersenyum ramah.




Setelah itu, tibalah saatnya untuk memasuki Kraton Kasunanan Surakarta. Ada aturan tidak boleh memakai sandal, jika datang dengan menggunakan sandal lebih baik ditanggalkan. Tapi jika kamu menggunakan sepatu maka diperbolehkn, hal ini dinilai sopan ketimbang menggunakan sendal. Kemudian hal lain yang tidak diperbolehkan ialah menggunakan topi. Saat itu saya menggunakan topi dan langsung diminta untuk ditanggalkan, beginilah kalau tidak tanya-tanya dulu, bisiku dalam hati.




Saat memasuki ruang aula kraton, kursi-kursi sudah ditata dengan rapi, panggung juga sudah diatur sedemikian rupa, lampu-lampu kristal menjuntai dengan anggun, dan para bapak-bapak berseragam menggunakan pakaian tradisional jawa yang sedikit berbeda, telah siap menyambut kami. Kali ini kembali melakukan kesalahan akibat tidak bertanya. Karena masih kosong, dengan santai kami memilih duduk di kursi paling depan. Maklum kebiasaan tidak suka duduk di belakang nanti banyak hal yang bisa terlewatkan. Kemudian tiba-tiba salah seorang bapak menghampiri dan berkata, "bisa kuris dua baris di depan dikosongkan? Soalnya untuk tamu undangan" mungkin seperti itulah kata-katanya, akhirnya niat duduk di depan jadi duduk bagian belakang karena kursi-kursi sudah banyak yang terisi oleh pesrta lain. Tapi, tak apalah, bukan kah ini masih tetap menarik? :)





Hari itu peserta ABFI 2013 merasa sangat beruntung karena penutupan kegiatan ini dilaksanakan di Kraton Kasusanan Surakarta, ditambah dengan kehadiran Gusti Kanjeng Ratu Pengageng, yang berkesempatan untuk hadir dan memberikan sepata kata atau juga pesan bagi para blogger. Kemudian berakhirlah acara ABFI 2013, namun sebelum benar-benar berpisah, peserta yang hadir lagi-lagi mendapatkan kejutan dengan penampilan seni yang sangat memukau. Di awali dengan penampilan empat wanita ayu yang anggun dalam membawakan Tari Serimpi. Empat orang penari itu dalam makna tari serimpi merupakan lambang dari empat eleman yaitu toya (air), grama (api), angin (udara) dan bumi (tanah). Tarian yang sudah dimainkan selama berabad-abad lamanya itu menjadi warisan yang tak ternilai harganya yang dimiliki oleh Kraton Kasunanan Surakarta dan hingga saat ini . Selanjutnya, setelah itu peserta ABFI 2013 kembali bertepuk tangan meriah ketika dua orang penari pria yang gagah berani dan sedikit bengis memainkan Tarian Putra Bandoboyo. Tarian itu begitu enerjik dan menggambarkan tengkasan para pengeran dan putra mahkota.



Kemudian di sela-sela acara penutupan tersebut saya berkesempatan mewawancarai salah seorang Sentono Dalam Kraton Kesunana Surakarta dengan gelar dan nama Kanjeng Raden Aryo Handoyo Diningrat. Bapak satu ini sudah mengabdikan dirinya selama 14 tahun di mulai pada tahun 1999 yang pada saat itu beliau masih berusia 25 tahun. Bapak tiga anak ini menuturkan untuk menjadi abdi dalam siapa saja boleh, lewat jalur manapun bisa, tidak dibatasi. Jika ingin menjadi  menjadi abdi di Kraton setidaknya harus mengikuti proses pendidikan selama enam bulan, di mana peserta akan belajar dan mengenal mengenai sejarah kraton, budaya kraton, tata cara upacara, tata cara busana, dan tulisan-tulisan jawa. Selama enam bulan tersebut, jika bersunggung-sungguh pasti akan bisa menguasai semua hal tersebut. Selain itu, Bapak Aryo menambahkan cara kedua ialah dengan menggunakan jalur prajurit.



Gelar yang diperoleh Bapak yang lahr di Solo, 20 Juni 1967 silam ini merupakan pemberian kraton kepada dirinya. Menurutnya, apa yang dilakukannya adalah pangglan hati nurani, dia dan teman-teman yang lain tidak mengharapkan apa pun dari kraton ini. Selama mereka menjadi abdi dalam pada Karaton Kasunanan Surakarta, mereka tidak pernah mengharapkan keuntungan atau bahkan tidak mendapatkan tambahan finansial dari sini. Mereka ikhlas menjalankan peran tersebut karena mereka merasa sebagai orang jawa maka wajib melestarikan adat istiadat leluhur. Mereka selalu siap sedia apapun yang diinginkan oleh Kraton Surakarta, seperti saat ini diminta untuk berpartisipasi dalam kegiatan pentupan ABFI 2013. Mereka percaya akan dilakukan semua dengan tulus ikhlas ini, pasti digantih dengan kebaikan yang lebih banyak lagi oleh Gusti Allah SWT dan ini kenyataan memang demikian, tutunya.



Kemudian bapak yang merupakan pegawai pada BPR PKK Jawa Tengah ini memberikan informasi bahwa yang menjadi abdi dalam di Kraton ini tidak hanya berasal dari Indonesia semata, ada pula yang berasal dari negara lain seperti Malaysia, Brunaidarusalam, Amerika, Belanda, Venuzuela, dan negara lainnya. Namun yang mereka sayangkan ialah masih banyak oknum-oknum yang menggunakan gelar dari kraton untuk kepentingan pribadi. Kraton  tidak pernah mengangkat dan memberikan gelar di luar kraton itu sendiri. Kraton tidak pernah membuka kantor-kantor di luar kraton.  Namun banyak yang menggunakan gelar dari kraton padahal kenyataannya tidak berasal dari Kraton Kasunana Surakarta.



Kemudian saya harus mengakhiri perbincangan dengan bapak yang sangat ramah ini karena beliau harus segera mengerjakan sesuatu hal. Saya kembali ke tempat duduk dan kembali memusatkan perhatian kepada acara penutupan yang tinggal di ujung tersebut. Akhirnya, selesai pula rangkaian kegiatan ABFI 2013 yang meninggalkan berbagai kesan. Tidak hanya sesama teman-teman peserta, namun juga tentang Kota Surakarta yang nyaman untuk dikunjungi, budaya orangnya yang ramah, Kroton Kasunana Surakarta yang bersejarah dan begitu ramah menyambut kami, serta sejumlah kenangan indah dan menyengkan lainnya. Semoga bisa kembali berkunjung ke kota ini, Sukarta!

Friday, May 17, 2013

Boleh Dibaca Jangan Ditiru (Rapid Fire Question)

Baru kenal dengan teman-teman Canting Jogja (Lina Sophy, Mesha Christina, dan Elishabeth Murni) sudah kena tembaakkk (istilah untuk pertanyaan paling berbahaya di dunia). Ini harus jawab jujur kan? Apakah harus tuhaaaannnnnn??? *hujan turun dan petir menyabar* 

Pertanyaan Wajib:
1. Nambah atau ngurangin timbunan buku?

Nambah donk, soalnya baca buku tidak ada kenyangnya.. :)

2. Pinjam atau beli buku?  


Pengennya selalu beli, tapi kadang teman banyak yang bilang kalau punya buku baru dan kebanyakan dari mereka menawarkan kepada saya! :D

3. Baca buku atau nonton film?


Dua-duanya suka..

4. Beli buku online atau offline?


Belum pernah beli buku online :) 

5. Buku bajakan atau original?


Yang ori lebih bagus, lebih puas. Kepuasanya karena kita bangga baca buku ori dan menghargai si penulis *tepok tangan*

6. Gratisan atau diskon?


Siapa yang bisa nolak kedua hal ini? Belajar dari emak-emaklah kalau ketemu barang diskon pasti pada lincah semua rebutan apa lagi yang gratis, pasti rusuh (maap ya maa)

7. Beli pre-order atau menanti dengan sabar?


Menanti dengan sabar, karena orang sabar disayang pacar! *ekh*

8. Buku asing (terjemahan) atau lokal?


Dua-duanya suka, asal jangan teenlit paling malas!

9. Pembatas buku penting atau biasa saja?


Sangat penting, soalnya suka lupa halaman :)

10. Bookmark atau bungkus chiki?


Ini pertanyaan apa yak? Ga ngeti??? :D


Nah, sekarang menuju kepertanyaan Baiklah mari kita menuju pertanyaan pertama dan ini pertanyaan paling berbahaya!

1. Pernakah nyuri buku di perpustakaan? Berapa Banyak? dan Kapan?


Waktu itu saya masih remaja, sedikit labil dan manis tentunya, hahaha. Kalau dibilang nyuri saya tidak setuju, saya lebih senang memakai kata minjem (mampus buka aib sendiri). Saat dibangku Sekolah Menengah Pertama saya pernah minjam buku Trio Detektif karya Alfred Hitchcock (baca: nyuri.. lha???) yang sangat saya gilai pada waktu itu dan hingga ini juga masih kagum dengan novel karya beliau. Kegilaan saya yang berlebihan itu sehingga saya ingin mengoleksi dan pada waktu itu, yakinlah sangat sulit bagi siapa saja yang tinggal di sebuah desa untuk punya atau membeli buku (membela diri dikit). Tapi saya hanya mengambil satu, judulnya juga sudah lupa. Buku itupun dipinjam teman dan tidak dikembalikan. Harusnya saya menyimpanya dengan baik karena berhasil melewati penjaga perpustakaan yang pada waktu itu jarang ada ditempatnya (hahaha)

Kemudian saat di bangku SMA, yang ini bukan buku, tapi majalah. Iya, majalah Horizon, upsh... hahaha. Cuma satu doank, soalnya waktu di sekolah itu majalah tidak boleh di pinjam, hanya buku saja yang boleh. Kemudian ada cerpen yang sangat menarik yang ingin saya baca. Entah mengapa saya ingin membacanya berulang-ulang karena sekali baca saya susah memahami. Dan terengggg... berhasil lah saya meloloskan majalah keluar perpus melewati seorang ibu penjaga yang begitu awas matanya memperhatikan gerak-gerik siapa saja... (jagoan saya donk berarti)

Tapi, please... pleasee... bagi siapa saja yang baca ini. Jangan ditiru, saya tidak ingin menambah dosa saya karena terinspirasi dari tulisan ini, please.. Kasihanilah saya, belom makan tiga hari...??? *next!

2. Saat tidur, mendengkur/ngorok?

Ini mah, perlu dibuktikan sendiri. Datang saja kerumah pas saya lagi tidur. Mana saya tau, lah saya kan lagi tidur!! :D

3. Lebih suka high heels atau sendal teplek?

Haruskah saya menjawab pertanyaan ini? Kalau saya hidup dimasa lalu yang laki pake high heels, mungkin jawabannya iya kalee yaa... hahaha

4. Katanya golongan darah mempengaruhi personaliti seseorang. Dan Gol darah B paling sering dibilang tukang iseng dan nggak pedulian. Bagaimana tanggapanmu dengan mereka?


Mungkin karena B itu bisa Bandel, Bebal, atau Borengsek.. hihi

5. Kalau sedang dititipin bayi dan bayi itu ngompol, rewel dan mengngis terus apa yang akan kamu lakukan?


Karena saya bukan baby sitter, mungkin akan terjadi kekacaun yang melebih gemba bumi dan banjir bandang.. haha

Fiuuufffhhh.... Selesai juga jawab pertanyaannya. Ini harus bisa tanda 10 (ingat waktu SD), oke lahhh... Bersiap pertanyaan dari saya buat teman blogger: 1) Riska Fitra Sari blogger dari Palu. 2) Tayusani Yuza blogger asal Banten. 3) Toha Nasr blogger asal Cianjur. 4) Lyala Kareem Blogger asal Palu. dan 5) Adiatman teman yang hianati ke Dieng :p

Pertanyaa:
1. Kalau ada yang minjam buku terus pas dikembalikan sedikit lecat atau rusak, enaknya yang minjem dihukum apa?
2. Milih ngasih kado buku apa coklat?
3. Kalau dikasih kesempatan bertemu seorang penulis, siapa yang paling ingin kamu temui? Alasannya apa?
4. Adakah tokoh dalam buku mempengaruhi kriteria calon pasangan yang akan mendampingimu nanti? *jleb*
5. Paling suka baca buku dalam posis apa? 



Silahkan dijawab dan buat lima pertanyaan terus kirim ke lima teman blogger lainnya. Ingat jangan dikembalikan ke saya yakkk!!!

Friday, May 10, 2013

Para Blogger Beraksi!

Suatu kesempatan yang menarik bagi para blogger yang ada di tanah air dan juga yang ada di Kawasan ASEAN untuk berkumbul pada event The ASEAN Blogger Fastival Indonesia 2013. Event yang dilaksanakan di Kota Solo tersebut sangat menarik dengan menghadirkan pembicara seperti Hermawan Kartajaya dan beberapa orang pembicara yang sudah sangat berpengalaman dalam dunia blogger.
Kegiatan yang dilaksanakan selama kurang lebih empat hari tersebut, yaitu dimulai dari 9-12 Mei bertempat di Hotel Kusuma Sahid Prince. Selain seminar dengan pembicara yang menarik, panitia juga sudah mempersiapkan sejumlah kegiatan yang menarik seperti berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ada di Kota Solo. Hal ini tentu saja dalam rangka memperkenalkan Solo sebagai kota yang memiliki nilai sejarah dan akar budaya yang kuat di Pulau Jawa.
Event ini menjadi satu ajang di mana para blogger dapat saling mengenal dan saling mendukung satu sama lain. Saling tukar menukar informasi tentang daerah masing-masing atau sekedar berkunjung ke akun blogger teman-teman baru. Karena lewat tulisan para blogger yang ada, besar kemungkinan kita menemukan hal baru yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Banyak hal menarik yang dapat kita peroleh dari sebuah akun blog.
Para blogger boleh berbangga, karena blogger saat ini tidak dapat dianggap sebelah mata. Tulisan melalui blog sangat mempengaruhi sosial, budaya dan politik. Saya masih ingat beberapa waktu yang lalu mengenai tulisan saya di akun kompasiana yang saya miliki, "Palu: Tour Kota Yang Gagal", yang membuat pemerintah Kota Palu kalang kabut dan bahkan harus membahas tulisan saya dalam rapat internal mereka. Disini saya sadar betul bahwa, kita, para blogger saat ini tidak bisa dipandang remah. Kita punya kekuatan besar lewat tulisan sederhana kita yang mungkin saja hanya dikunjungi oleh beberapa visitor saja dalam sehari. Namun, bukan hal itu yang menjadi patokannya, yang terpenting adalah kita mampu menghasilkan tulisan yang tidak biasa yang dapat memberikan informasi yang selama ini tidak diketahui oleh orang pada umumnya. Dan kalau sudah demikian, blog kita akan menjadi salah satu blog yang akan populer dengan sendirinya :)

Tuesday, April 30, 2013

Di Balik FreKuenSi: Sebuah Bentuk Literasi Media



Bebrapa waktu yang lalu, tepatnya Senin, 29 Mei, dibawah koordinasi rumah baca yang ada di Kota Palu yaitu Nombaca, sebuah pemutaran film dalam menyambut May Day digelar. Acara sederhana dengan mengundang para praktisi media massa, komunitas media online, dan juga para mahasiswa untuk duduk dan nonton bersama sebuah film dokumenter, Dibalik Frekuensi.

Film ini secara frame besar bercerita tentang buruh, media massa dan berita di media massa itu sendiri. Seorang wanita, Luviana yang bekerja pada stasiun televisi MetroTV yang menuntut haknya sebagai seorang pekerja. Haknya sebagai pekerja tidak dipenuhi, bahkan ibu satu anak ini harus menelan pil pahit ketika hendak membentuk serikat pekerja yang terdiri dari para jurnalis di MetroTV dan dianggap dapat mengganggu manajeman perusahaan sehingga dia mendapatkan PHK dengan alasan yang dibuat-buat. Media massa sendiri, telah menjadi alat pemiliknya dalam memperbaiki dan menjaga citra mereka. Bahkan seorang seperti Hari Suwandi harus menelan kembali luda yang telah dikeluarkanya, entah dengan "alasan apa"???

Masyarakat Indonesia dipermainkan. Masyarakat dianggap hanyalah keledai-keledai dungu yang akan menerima permainan para pemilik media dengan tujuan politiknya. Saling menyerang dan menjatuhkan secara tersirat atau saling membanggakan diri lewat penghalusan bahasa dalam pemberitaan mereka.

Film ini mengajarkan tentang bagaimana kita benar-banar harus mengerti dengan literasi media. Bahwa media massa merupakan media yang tidak bebas nilai. Terdapat banyak kepentingan di dalamnya. Sebagai pemirsa tentu saja kita harus cerdas, cerdas dalam menyaring informasi yang kita terima. Tidak menjadikan satu media sebagai sumber kebenaran ilahi pada satu kasus.

Beberapa tahun yang lalu, penulis terlibat dalam kegiatan training yang dilakukan oleh The Habibie Center. Kegiatan ini dilakukan di tiga kota di Indonesia yaitu Palu, Ambon, dan Depok. Kegiatan ini dilaksankan di tingkatan Sekolah Menengah Atas dengan target siswa-siswi tentunya, dimana penulis menjadi trainer untuk Kota Palu. Dari kegiatan itu, akhirnya saya menyadari bahwa pedidikan media sangat penting bagi generasi muda. Pemahaman media yang baik akan memberikan kemampuan analsis yang baik terhadap informasi yang disajikan oleh media massa tersebut. Sehingga akan perpengaruh terhadap pemilihan media yang tentu saja saja lebih jauh lagi ialah berpengaruh terhadap media massa itu sendiri. Sederhananya, pemirsa cerdas akan memilih program berbobot dan bukan membodohi. Kalau sudah demikian maka tidak akan ada lagi program yang hanya mengejar reting dengan tujuan keuntungan bagi pemilik media sedangkan pesan-pesan yang bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan penonton diabaikan.


Literasi media mencoba untuk menggerakan massa dalam menentukan tayangan televisi atau bentuk siaran di radio maupun berita di surat kabar. Hanya gerakan massa yang bebas dari nilai-nilai pemilik media atau yang punya kepentingan tertentu yang mampu melindungi kita dan keluarga kita dari informasi media yang menyesatkan. Kecerdasan massa dalam memilih media lah yang menjadi goal dari literasi media. Masyarakat menjadi cerdas dan tidak terpengaruh dengan profokasi melalui media, masyarakat cerdas dan tidak menjadi penonton atau pengonsumsi setia informasi yang mengandung sadisme dan vulgarisme.

Film Dibalik Frekuensi adalah bentuk pembelajaran media yang sangat baik bagi generasi muda. Bukan bermaksud menjatuhkan pihak tertentu, namun kenyataan yang akhirnya bersuara lewat film dokumenter yang berdurasi 144 menit tersebut. Bahwa anda, sang penguasa media begitu licik bermain dengan media anda demi kepentingan anda sendiri dan mengaggap rakyat Indonesia bodoh.


Hanya masyarakat Indonesia yang bisa merubah dan menghentikan tangan-tangan gurita sang pemilik media yang tanpa sadar telah membelit kita dan orang-orang terdekat kita. Berusaha membingkai dirinya menjadi sebuah tokoh dengan sosok yang luar biasa agung. Tampi sempurna dengan bentuk deremawanan dan senyum bersahaja yang palsu. Media adalah kekuatan namun masyarakatlah yang akan menentukan media itu mampu bertahan atau gulung tikar. Tak ada penonton pasti tak ada iklan. Dan pada akhirnya, upaya pencitraan tersebut itu hanya akan menjadi kertas koran usang yang dipakai membungkus kacang!!!

Friday, April 26, 2013

Merah Putih: Kesalahan Itu Ada Pada Saya dan Polisi Bombay


 Pada saat menerima short course di New Delhi, akhirnya tibalah paket trip keliling Agra dan Jaipur yang dikenal dengan Golden Triangle Trip. Di mana Agra, Jaipur dan Delhi membentuk sigitiga dengan tiap-tiap tempat menawarkan sejumlah tempat wisata bersejarah yang menarik. Di Agra kita bisa menjupai bangunan megah nan mempesona dengan arsitektur dan kisah cinta dibaliknya, Taj Mahal, yang merupakan peninggalan Raja Agung Shah Jahan. Di Jaipur peninggalan King Akbar dengan Amer Fort dan Pink City-nya yang menyimpan sejarah keagunganya di masa lalu. Dan Delhi tentu saja menyimpan banyak bangunan bersejarah yang sangat unik dengan nilai asritektur yang tinggi.
Pada suatu subuh, setelah sebuh-subuh benar kami telah menunggu di lobby hotel. Menunggu taksi yang akan mengantarkan kami menuju ketempat bus wisata yang akan mengantarkan kami ke kedua tempat tersebut (dari Delhi). Sekitar pukul 4, telephone di kamar sudah berdering. Panggilan dari receptions yang mengingatkan jadwal trip subuh itu. Delhi yang sedang musim dingin pada saat itu mungkin saja di luar 6 atau 8 derajat celsius. Saat saya telah siap dan menuju Lobby, ternyata telah banyak teman-teman program yang menunggu di lobby dalam balutan baju tebal. Sekita pukul 6 akhirnya taksi-taksi tiba dan kami segara melangkah memasuki dalam langkah yang cepat-cepat karena dingain. Tak lama kemudian kami sudah duduk manis di tempat masing-masing dalam bus wisata, Let's Go!
Empat atau lima jam perjalanan akhirnya kami tiba di Agra. Hasrat melihat Taj Mahal yang megah yang telah begitu lekat diingatan sejak kecil sebagai tujuh keajaiban dunia. Namun dibalik itu, karya arsitketurnya yang simetris dan sistem irigasinya yang sangat canggilah yang membuat bangunan ini sebagai peninggalan bersejarah teragung dalam sejarah penciptaan yang dilakukan oleh manusia. 

Waktu di Indonesia, sudah merencanakan akan berfoto di depan Taj Mahal dengan menggunakan bendera Indonesia. Jaidlah, hari itu bendera merah putih tercinta siap dalam tas yang khusus dibuatkan oleh ibu temanku (Thanks aunty). Saat akan memasuki bangunan lambang cinta tersebut, guide sudah memberikan arahan dilarang berfoto membawa lambang atau simbol apapun (gawat!). Langsung kenakalan dimulai, bendera dimasukan ke dalam kantong.
Saat tepat berada di depan Taj Mahal, seorang teman asal Paraguay, Isabela saya minta untuk mengabadikan moment bersejarah dalam hidupku itu. Di depan Taj Mahal, bangunan yang keseluruhan terbuat dari marmer putih yang membutuhkan waktu 22 tahun masa pengerjaan serta 20.000 orang pekerja bahkan banyak yang harus mati demi bangunan cinta tersebut. Mulai mengeluarkan bendera dari kantong, temanku tertwa saja melihat kejahilan tersebut. "Isabela, help me, please. Take my picture. Hurry up, the police will come" *senyum*. Dan tiba-tiba, sesosok tinggi berkumis bawa pentungan mucul disampingku. "Sorry sir, this is not allowed", kata si polisi bombay (kebiasaan nonton film india waktu kecil). "ohh, sorry sir" tiba-tiba lugu dungu. "I will keep this flag. You can take when you want to go out from this place" katanya, cukup ramah. "ohh, ok! I'm so sorry* sok nyesal. Dan, setelah polisi bombay itu berlalu, temanku berbisik "I have taken two pictures" (hahah)

Mengunjungi Taj Mahal selesai pada hari itu, dan siap-siap makan siang lalu menuju Jaipur. Perjalanan tiga hari akan dihabisakn di Jaipur untuk bermalam sehari. Okelah, siap menuju tempat berikut. Namun, melihat hasil foto yang bersejarah itu, sungguh... sungguhhhh saya minta maaf INDONESIA tanah air beta. Sungguh saya gagal jadi warga negara yang baik. Karena terburu-buru takut ketauan dan pada akhirnya ketauan juga, saya tidak memperhatikan bendera merah putih yang terbalik *Nangis Guling-guling*. Bendera terbalik, harus bagaimana. Isabela yang warga negara Paraguway, mungkin tidak tau bendera Indonesai. Jadi dia tidak mengoreksi apa-apa pada saat mengambil gambar. Sedangkan saya sendiri tidak memperhatikan bendera dan lebih memperhatikan polisi bombay. Dan mengapa juga polisi bombay itu tiba-tiba mucul kayak hantu??? Aarrggghhhh... Yah, sudahlah, maaf yang INDONESIA!!! :)

Sunday, April 14, 2013

Screening Special To Go To Solo 2013!

Dua sutradara asal Palu, Yusuf Radjamuda dan Eldiansya Latif, harus berbangga. Kenapa tidak kali ini film pendek mereka masuk ke dalam tiga puluh besar film yang lolos tahap seleksi awal. Cukup membanggakan, karena festival yang memiliki kualitas penjurian tidak boleh dianggap sepele itu menjadi salah satu festival film pendek yang paling bergengsi di tanah air. Para senias muda baik sudah lama bekecimpung di dunia perfileman maupun yang baru nyempulng turut mengirimkan karya-karya mereka. Dan, akhirnya wakil dari "Kota Kaledo" bisa melangkah ketahap selanjutnya dan merasakan atmosfer sebuah festival film bergengsi di tahun 2013 ini.
Untuk menuju Solo, maka kedua sutradara dan para simpatisan menggelar pemutaran sepsial yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 April 2013. Taman Budaya Golni menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan tersebut. Malam itu, cukup ramai dikunjungi oleh para penonton, pemerhati film, maupun para pekerja seni lainnya. Setelah usai, diskusi pendek menjadi kegiatan wajib yang harus dilakukan. Berbagai pertanyaan dan komentar timbul mengenai kedua film tersebut. Dari yang mendukung, mengkritik, sampai ada yang menyampaikan sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kedua film tersebut.
Kali ini kedua sutradara muda Kota Palu itu berusaha untuk mencoba hal yang baru. Yusuf Radjamuda yang lebih diakrab Papa Al tersebut hadir dengan "Taman Belakang" yang butuh kejelian dalam menonton. Film ini juga memberikan kebebasan kepada penonton untuk mengintepretasikan pesan-pesan yang disampaikan. Sedangkan, Eldiansya Latief (Anca) mencoba menghadirkan karya yang sama sekali berbeda dari karya mereka sebelumnya, dan ini sangat menggelitik. Bagi para penonton dapat memperoleh informasi kerja dibelakang layar seperti apa? Namun lebih jauh lagi, kayra mereka "Umar Amir" syarat dengan makna filosofis dan ketika saya menonton film ini saya teringat akan novel "Dunia Sophie". Dibalik semua itu, Screening Special, kali ini dapat dibilang salah satu bentuk upaya para pembuat film pendek di Kota Palu untuk secara independen mempertahakan karya dan kreatifitas mereka. Goodluck!

Wednesday, April 10, 2013

Berkunjung Ke Negeri Mahatma Ghandi!

Gong Perdamaian Dunia, Hadiah dari Pemerintah Indonesia
Untuk Pemerintah India
Mungkin sebagian dari kita sudah tau dan kenal India dengan baik, mengapa tidak, saya ingat betul pada saat masih kanak-kanak, salah satu stasiun televisi nasional memutar film India dan itu mendapat perhatian yang besar dari masyarakat. Bahkan saat dewasa pun saya dan teman-teman masih tetap menggemari film India sepeti My Name is Khan, Three Idiots, Terazaman, dan lain sebagainya dengan ciri khas mereka, jago buat air mata mengucur! hehe
Tiga bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Januari, saya berkesempatan untuk mengujungi negeri Mahatma Ghandi tersebut. Hal ini dalam rangka short course yang saya peroleh dari Pemerintah India. Dimana mereka memiliki program untuk semua negara, agar dapat berkesempatan untuk mengeyam pendidikan kursus singkat di negeri Bolliwood tersebut. Dan jadilah saya salah seorang yang mencoba kesempatan beasiswa ITEC tesebut yang tentu saja mengikuti prosedur layaknya beasiswa pada umumnya. Dan tereengggg...!!! Saya pun menunju India pada tanggal 16 Jan 2013 yang sebelumnya harus ke Bali untuk mengurus visi di konsulat India di Bali (lumayan, bisa ada alasan untuk ke Bali :D).
Ruangan Tidur Dari Mendiang Mahatma Ghandi
Yang Masih Terus Dijaga dan Dirawat
India memang sangat menakjubkan. Di balik perkembangan yang begitu pesat, terdapat pula rakyat yang masih hidup dalam kemiskinan. Namun, mereka tetap mempertahankan budaya dan adat istiadat yang mereka miliki ditengah gempuran modernitas. Salut!

Patung Lilin Mhatma Gandi dan Mendiang
Istrinya, Kasturba Gandhi
Banyak hal, yang akan saya bagi di blok ini, tapi yang menarik dan tidak perna saya lupakan adalah salah satunya Museum Mahatma Ghandi. Disinilah bukti kecil bahwa India berkomitmen dalam mempertahankan budaya mereka. Di mana mereka memadukan antara traditional dan modern. Seperti, terdapat alat musik yang dulu pernah dimainkan oleh Gandhi dan kemudian saat kita membunyikan alat musik itu, maka kita dapat melihat dilayar pesan-pesan dari Gandhi yang perlahan menjadi utuh dan jelas. Kemudian ada pula alat untuk merubah segala jenis bahasa ke dalam bahasa hindi yang kemudian dilantunkan dalam nyanyian. Tidak hanya itu mereka menyediakan sejumlah orang untuk menjadi guide bagi pengunjung yang datang, dan semuanya tidak dipungut biaya alias gratis!
Untungnya masih bisa menyempatkan diri untuk mengunjungi museum tersebut, karena pada saat itu merupakan hari terakhir saya di New Delhi. Rasa sunyi juga sih, pagi hari jalan sendiri yang biasanya jalan bareng teman-teman program. Namun saya puas, karena bisa pergi mengunjungi tempat bersejarah tersebut. Ini seperti kunjungan penutup yang manis, karena malamnya saya sudah harus meninggalkan Delhi, dengan harapan memilki kesempatan untuk kembali mengujungi Negeri Mahatma Gandhi tersebut!